Dewasa ini, mungkin tidak asing lagi di telinga kita, terdengar
kalimat-kalimat bernada negatif tentang negeri ini, yang mana kalimat-kalimat
tersebut justru dilontarkan oleh manusia-manusia penghuni tanah air ini sendiri.
Nah, sebelum menghakimi “kebobrokan” negeri ini lebih jauh ,
ayo kita sama-sama bayangkan diri kita ada di tengah keramaian. Keramaian itu
berisi manusia-manusia Indonesia. Lalu, di tengah keramaian itu, bayangkan kita
tengokkan kepala kita ke kiri.
Kita akan melihat
pencopet yang sedang membobol tas korbannya, pemuda yang dengan seenaknya
melempar sampah ke jalanan, penjual film bajakan dengan harga miring, lelaki
dengan pakaian perlentenya yang mengaku wakil rakyat namun dengan terang-terangan justru berkhianat, kendaraan
dengan pengendaranya yang tidak tertib, dan penjaja makanan berbahan formalin
yang hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya.
Walaupun semua pemandangan yang menunjukkan keadaan bangsa ini
begitu pahit, namun jangan lupa tenggokkan kepala kita ke kanan.
Kita akan melihat gadis kecil yang membantu nenek tua
menyebrang, pelajar pembawa tumpukan buku yang akan memajukan bangsa ini,
penjaja makanan tradisional yang teguh mempertahankan kekayaan cita rasa
kuliner negeri ini, wanita muda yang mengembalikan dompet yang terserak kepada
pemiliknya, dua bocah kecil yang berbagi permen dengan riang tanpa mementingkan
kesenangan diri sendiri, ibu paruh baya yang dengan ikhlas memungut sampah di
pinggir jalan, dan kakek tua dengan senyum ramah khas Indonesianya.
Dari ilustrasi di atas, kita jadi sama-sama tahu bahwa begitu banyak keburukan
yang terlihat di permukaan negeri ini. Namun, jika kita mau berusaha untuk
membuka mata hati kita, akan terlihat pula banyak hal membanggakan yang tersembunyi di
dasar tak tersentuh dari negeri ini.
Memang, dengan jelas telinga kita bisa menangkap suara-suara
yang berteriak “negeri ini bobrok”, “negeri ini kacau balau”, “negeri ini penuh
dengan politik kotor”, dan “negeri ini hanya berisi makhluk-makhluk
individualis.”
Namun, berkoar-koar seperti itu
tanpa melakukan tindakan perubahan yang nyata tidak akan mengubah
apapun. Keburukan di negeri ini akan tetap bertambah, kalau kita tidak melakukan
apapun yang bisa memperbaiki tanah air yang telah membesarkan kita ini. Sama
halnya seperti melihat kapal yang tenggelam di tengah laut, tapi kita hanya
berteriak-teriak “kapalnya tenggelam! kapalnya tenggelam!” tanpa berusaha menyelamatkan
kapal tersebut untuk kembali ke dermaga.
Kita semua tentu menginginkan perbaikan di segala bidang di
negeri ini. Oleh karena itu, mari sama-sama ambil bagian dalam membangun
Indonesia. Untuk Indonesia yang lebih baik, lebih maju, dan lebih membanggakan.
Kita semua punya harapan, karena benih-benih kebaikan sudah
mulai tumbuh sedikit demi sedikit di tanah kebanggaan kita ini. Jika mau rajin menyirami benih-benih kebaikan tersebut dengan air jernih keikhlasan dan ketulusan, akan segera kita petik buah manis rasa bangga dari semua perjuangan ini.
*Beberapa bagian dari tulisan ini terinspirasi dari tulisan Fahd Djibran
*Beberapa bagian dari tulisan ini terinspirasi dari tulisan Fahd Djibran
No comments:
Post a Comment