Wednesday, January 2, 2013


Dewasa ini, mungkin tidak asing lagi di telinga kita, terdengar kalimat-kalimat bernada negatif tentang negeri ini, yang mana kalimat-kalimat tersebut justru dilontarkan oleh manusia-manusia penghuni tanah air ini sendiri.

Nah, sebelum menghakimi “kebobrokan” negeri ini lebih jauh , ayo kita sama-sama bayangkan diri kita ada di tengah keramaian. Keramaian itu berisi manusia-manusia Indonesia. Lalu, di tengah keramaian itu, bayangkan kita tengokkan kepala kita ke kiri.

Kita akan melihat pencopet yang sedang membobol tas korbannya, pemuda yang dengan seenaknya melempar sampah ke jalanan, penjual film bajakan dengan harga miring, lelaki dengan pakaian perlentenya yang mengaku wakil rakyat namun dengan  terang-terangan justru berkhianat, kendaraan dengan pengendaranya yang tidak tertib, dan penjaja makanan berbahan formalin yang hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya.

Walaupun semua pemandangan yang menunjukkan keadaan bangsa ini begitu pahit, namun jangan lupa tenggokkan kepala kita ke kanan.

Kita akan melihat gadis kecil yang membantu nenek tua menyebrang, pelajar pembawa tumpukan buku yang akan memajukan bangsa ini, penjaja makanan tradisional yang teguh mempertahankan kekayaan cita rasa kuliner negeri ini, wanita muda yang mengembalikan dompet yang terserak kepada pemiliknya, dua bocah kecil yang berbagi permen dengan riang tanpa mementingkan kesenangan diri sendiri, ibu paruh baya yang dengan ikhlas memungut sampah di pinggir jalan, dan kakek tua dengan senyum ramah khas Indonesianya.

Dari ilustrasi di atas, kita jadi  sama-sama tahu bahwa begitu banyak keburukan yang terlihat di permukaan negeri ini. Namun, jika kita mau berusaha untuk membuka mata hati kita, akan terlihat pula banyak hal membanggakan yang tersembunyi di dasar tak tersentuh dari negeri ini.

Memang, dengan jelas telinga kita bisa menangkap suara-suara yang berteriak “negeri ini bobrok”, “negeri ini kacau balau”, “negeri ini penuh dengan politik kotor”, dan “negeri ini hanya berisi makhluk-makhluk individualis.”

Namun, berkoar-koar seperti itu  tanpa melakukan tindakan perubahan yang nyata tidak akan mengubah apapun. Keburukan di negeri ini akan tetap bertambah, kalau kita tidak melakukan apapun yang bisa memperbaiki tanah air yang telah membesarkan kita ini. Sama halnya seperti melihat kapal yang tenggelam di tengah laut, tapi kita hanya berteriak-teriak “kapalnya tenggelam! kapalnya tenggelam!” tanpa berusaha menyelamatkan kapal tersebut untuk kembali ke dermaga.

Kita semua tentu menginginkan perbaikan di segala bidang di negeri ini. Oleh karena itu, mari sama-sama ambil bagian dalam membangun Indonesia. Untuk Indonesia yang lebih baik, lebih maju, dan lebih membanggakan.

Kita semua punya harapan, karena benih-benih kebaikan sudah mulai tumbuh sedikit demi sedikit di tanah kebanggaan kita ini. Jika mau rajin menyirami benih-benih kebaikan tersebut dengan air jernih keikhlasan dan ketulusan, akan segera kita petik buah manis rasa bangga dari semua perjuangan ini.  

*Beberapa bagian dari tulisan ini terinspirasi dari tulisan Fahd Djibran

No comments:

Post a Comment