Wednesday, January 2, 2013

Bingkaian Kenangan dari Kota Gudeg

Liburan akhir semester satu di kelas XII ini, saya dan keluarga saya pergi ke Yogyakarta. Selain untuk jalan-jalan, tujuan utama kami ke Yogyakarta adalah menengok ayah dari ibu saya, atau kakek saya, karena ibu saya sangat kangen pada ayahnya. Selama lima hari di Yogyakarta, kami pergi ke beberapa tempat wisata di sana. Dan inilah sebagian foto yang berhasil saya potret di Candi Borobudur, Pantai Depok dan Parangtritis, dan Pasar Kranggan.

Lelaki ini berpura-pura menjadi patung dengan melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur dan diam tak bergerak dalam jangka waktu yang cukup lama. Imbalan yang didapatnya adalah lembaran uang yang berada persis di depan kakinya dari para pengunjung Candi Borobudur yang lewat di depannya.

Inilah candi Buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur. Kebanggaan semua rakyat Indonesia. Hari itu sangat cerah di sana, sehingga awan yang berarak terlihat indah, dan semakin indah lagi dengan munculnya pelangi, yang dapat dilihat di bagian atas foto ini.

Ikan-ikan segar ini dijual di pasar ikan di Pantai Depok. Jadi, kalau kita ingin makan berbagai makanan laut di tepi pantai, kita bisa memilih dulu makanan laut yang kita mau di pasar ikan ini, kemudian kita bisa minta dimasakkan oleh restoran yang sesuai dengan selera kita.

Pantai Depok dari kejauhan. Foto ini diambil di depan restoran seafood di pinggir pantai. Yang seperti rumbai-rumbai di bagian atas foto itu adalah bagian atap dari restoran seafood tersebut.

Pantai Parangtritis, dari kejauhan juga. Karena siang itu sangat panas, akhirnya saya dan keluarga saya hanya mampir ke sana sambil berteduh di bawah balai penjaga pantai.

Kecomang ini memang berwarna-warni, tetapi hati mereka pasti kelabu, karena cangkang  mereka dicat dan digambari, kemudian dijual di pinggir pantai, padahal mereka tentu ingin hidup bebas dengan cangkang asli meraka yang berwarna alami.

Ketika rasa lapar menyatukan perbedaan, kalimat itulah yang diucapkan ayah saya sewaktu melihat pemandangan di atas. Para biarawati dan ibu berkerudung tersebut mengantri dengan rapi dan damai menunggu bubur sum-sum di Pasar Kranggan. Semoga dimulai dari hal kecil seperti ini, konflik perbedaan agama di Indonesia bisa berkurang bahkan tidak ada lagi, ya.

Beli kacangnya mau berapa mangkuk? Pemandangan di atas, yaitu mangkuk di atas gunungan kacang, menarik perhatian saya, akhirnya saya pun berusaha mengambil gambar tersebut dengan posisi terbaik, walaupun harus gagal beberapa kali.

No comments:

Post a Comment