Tuesday, December 25, 2012

Kenapa Harus Takut Menjadi Diri Sendiri?

Di era globalisasi ini, informasi sangat mudah didapat. Mungkin kalimat ini agak klise, tapi begitulah kenyataannya. Di zaman sekarang, orang-orang takut sekali ketinggalan informasi. Takut dianggap kuper, tidak gaul, dan banyak lagi sebutannya.

Agar dapat saling berbagi informasi, banyak orang bergabung ke berbagai jejaring sosial yang saat ini sudah menjamur di dunia maya. Salah satu dari sekian banyak jejaring sosial itu adalah Twitter. Saya adalah salah satu dari pengguna jejaring sosial ini. Namun, saya tidak terlalu banyak menge-tweet, saya lebih banyak memperhatikan beragam tweet atau yang dalam bahasa Indonesia berarti kicauan, orang-orang yang ada di timeline saya.

Yang saya perhatikan, tema-tema yang menjadi perbincangan kebanyakan orang adalah hal-hal yang seragam, seperti film yang sedang diputar di bioskop, isu-isu global, dan acara yang tengah ditayangkan di televisi.

Lebih dalam lagi, saya memperhatikan bahwa ada rasa bangga dalam tweet orang yang telah menonton film terbaru di bioskop, yang mengerti isu global yang tengah mencuat, atau yang sedang menonton acara televisi yang ditonton banyak orang. Hal yang sebaliknya pun terjadi, mereka yang belum menonton film terbaru di bioskop, yang tidak mengerti isu global yang sedang diperbincangkan, atau yang tidak menonton acara televisi terkenal akan menyiratkan rasa bersalah dan kekecewaan mereka melalui tulisan mereka di jejaring sosial ini.

Sebenarnya, bukankah kita memang tidak harus mengetahui segala hal dan menonton semua film terbaru? Kalau film terbaru yang sedang ramai diperbincangkan bukan genre kesukaan kita, apakah kita harus memaksakan diri untuk menonton, demi dianggap paling gaul? Lalu, kalau isu global yang sedang menggemparkan dunia tidak menarik minat kita, apakah kita harus kita memelototi setiap siaran berita, demi dianggap kekinian dan tidak kuper?

Menurut saya, banyaknya jejaring sosial saat ini, sedikit banyak telah mengubah kepribadian orang yang tergabung dan menjadi penggunanya. Para pengguna ini, sedikit demi sedikit menggerus keperibadian asli mereka sehingga menjadi sama seperti orang-orang lainnya. Mereka takut mengambil risiko untuk mejadi diri mereka apa adanya. Mereka takut untuk menjadi berbeda dari kebanyakan orang.

Padahal, bukankah pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia dengan kepribadian yang berbeda-beda? Tuhan meciptakan perbedaan-perbedaan untuk menghadirkan keberagaman. Agar dunia ini tidak monoton.

Bukankah akan begitu membosankannya, jika semua orang memiliki kepribadian yang sama? Kita tidak tidak akan tahu yang mana yang betul atau salah, bagus atau jelek, rajin atau malas, dan seterusnya.

Bukankah dari perbedaan-perbedaan yang telah Tuhan ciptakan, kita jadi dapat belajar? Kita jadi bisa menghargai bahwa tidak semua orang akan sependapat dengan kita, bahwa tiap orang mempunyai minat dan bakatnya yang berbeda-beda, bahwa ada banyak orang yang lebih baik dari kita sehingga kita harus berusaha agar dapat sebaik atau bahkan lebih baik dari mereka, dan bahwa ada banyak orang tidak seberuntung kita sehingga kita harus banyak bersyukur dan tidak serakah.

Ada sebuah kutipan yang selalu saya ingat dan menempel di pikiran saya, namun sayangnya saya lupa siapa pengemuka dari kutipan tersebut, namun kira-kira isi dari kutipan tersebut adalah, jika kita berusaha menjadi seperti orang lain, maka kita akan berakhir seperti orang lain. Inti dari kutipan tersebut adalah kita harus menjadi diri sendiri. Kita harus membentuk kepribadian kita sampai kita menjadi nyaman menjadi diri kita dan tidak merasa perlu untuk menjadi seperti orang lain.

Menjadi diri kita apa adanya adalah yang terbaik, karena itu artinya kita telah menghargai dan bersyukur atas karunia Tuhan, selama kita mau terus memperbaiki diri sehingga menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

No comments:

Post a Comment