Sunday, February 3, 2013

Sebuah Renungan Angka Delapan Belas


“Delapan belas,” lamat-lamat keluarlah angka tersebut dari mulut saya, sembari saya amati rasanya di lidah saya. Seketika lidah saya menjadi kelu. Tersentaklah saya ketika menyadari bahwa delapan belas bukanlah sebuah angka yang terbilang kecil atau memiliki nilai yang sedikit.

Ya, angka delapan belas yang saat ini resmi saya sandang sebagai usia saya, memang tidak dapat saya sepelekan. Bagaimana mungkin saya sepelekan, ketika tanggung jawab yang mengiringi  kehadirannya pun bertambah menjadi delapan belas kali lipat lebih besar dari sebelumnya?

Seketika saya teringat pada hari ketika saya membuka mata untuk pertama kalinya di usia delapan belas tahun, yaitu di sepertiga malam tanggal 30 Januari 2013. Saya bagaikan disodorkan hadiah berupa sebongkah batu berbentuk angka delapan belas oleh seseorang. Kemudian ia letakkanlah batu tersebut di punggung saya.

 “Berat!” teriak saya dalam hati.

Ya, hidup dengan menyandang angka delapan belas sebagai usia, memang seperti memanggul sebongkah batu yang berat, sebuah pekerjaan yang tidak mudah, jadi harus dijalani dengan pelan-pelan namun penuh tanggung jawab. Juga harus dengan perasaan bahagia, karena dengan perasaan bahagia, pekerjaan yang berat akan terasa ringan dijalani. Dan, satu lagi, harus pula diiringi oleh rasa syukur, karena ketika kita melakukan pekerjaan yang berat, itu artinya Tuhan percaya bahwa kita dapat menyelesaikan hal yang besar tersebut. Dimana tidak semua orang diberi kepercayaan untuk menjalaninya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Kemudian, pikiran saya memutar ulang serangkaian potongan peristiwa yang menjadi bagian dari  perjalanan hidup saya selama delapan belas tahun. Saya yang tidak mau pergi ke sekolah dan akhirnya dihukum oleh orang tua, saya yang menangis ketika disuruh belajar, saya yang belajar naik sepeda untuk pertama kalinya, saya yang sedih ketika harus ditinggal ibu karena akan melahirkan adik, saya yang selalu senang pergi ke toko buku bersama ayah, saya yang ikut menari di acara perpisahan kakak kelas enam, saya yang harus berpisah dengan sahabat saya karena harus pindah rumah, saya merusakkan banyak barang di rumah, saya yang bertengkar dengan adik-adik saya, saya yang pergi ke kebun binatang bersama keluarga, saya yang bermusuhan dengan teman, saya yang dikerjai teman-teman karena dianggap mudah dibohongi, saya yang ikut study tour ke Yogyakarta bersama teman-teman SMP, saya yang terlalu bahagia karena berhasil masuk ke SMA impian saya, saya yang mengikuti MOPD yang rasanya begitu “kejam”, saya yang kelelahan dan sering marah-marah karena harus mengerjakan setumpuk pr dengan deadline yang berdekat-dekatan, saya yang menjadi ketua ekstrakurikuler di sekolah, saya yang bermain drama untuk tugas akhir bahasa Indonesia kelas XI, saya yang berjualan pin bersama teman-teman untuk mendapat nilai ekonomi, dan akhirnya saya yang kini berusia delapan belas tahun.

Dari serangkaian peristiwa yang telah saya alami selama ini, rasanya belum ada hal bermanfaat secara signifikan yang saya lakukan, baik untuk diri saya apalagi untuk orang lain. Yang saya lakukan selama ini rasanya hanyalah hal-hal yang membuat orang-orang di sekitar saya kesal, marah, sedih, dan bahkan kecewa.

Di usia delapan belas tahun ini, tiba-tiba saya tersadar, bahwa saya harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Mungkin terdengar terlalu muluk, tapi sejujurnya saya ingin memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini. Kalaupun saya tidak bisa memperbaiki sistem pendidikan yang telah ada, setidaknya saya ingin menumbuhkan minat belajar dan membaca kepada mereka yang selama ini sulit mendapat akses pendidikan. Seperti pengamen, anak jalanan, pemulung, dan orang-orang lainnya yang selama ini dianggap “tidak ada” di negeri ini.

Di usia delapan belas tahun ini, saya pun juga tersadar bahwa ulang tahun bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan, tetapi perlu direnungkan. Karena dari perenungan terlahir begitu banyak hal-hal tersembunyi yang selama ini saya lewatkan, namun ternyata begitu penting ketika disadari dan kemudian harus dijadikan pelajaran dalam menapaki tangga kehidupan yang selanjutnya. Maka dari itulah sedari tadi saya meracaukan renungan saya lewat tulisan ini. Ibu saya memang membuatkan kue untuk saya, ayah dan adik-adik saya memang memberi saya hadiah, dan sahabat saya memang menuliskan puisi untuk saya, tetapi saya melihat semua itu bukan sebagai perayaan atas pencapaian usia saya, tapi sebagai bentuk kasih sayang mereka kepada saya. Dan saya begitu bersyukur mereka yang saya sayangi tersebut mau menujukkan kasih sayang dan dukungan mereka, sehingga saya bisa dengan percaya diri  berlari untuk mencapai masa depan yang semoga bisa memberi manfaat untuk orang lain. Saya mau jadi orang yang berguna!


*Beberapa bagian dari renungan ini terinspirasi dari tulisan Fahd Djibran 

No comments:

Post a Comment