“Delapan belas,” lamat-lamat keluarlah angka tersebut dari
mulut saya, sembari saya amati rasanya di lidah saya. Seketika lidah saya
menjadi kelu. Tersentaklah saya ketika menyadari bahwa delapan belas bukanlah
sebuah angka yang terbilang kecil atau memiliki nilai yang sedikit.
Ya, angka delapan belas yang saat ini resmi saya sandang
sebagai usia saya, memang tidak dapat saya sepelekan. Bagaimana mungkin saya
sepelekan, ketika tanggung jawab yang mengiringi kehadirannya pun bertambah menjadi delapan
belas kali lipat lebih besar dari sebelumnya?
Seketika saya teringat pada hari ketika saya membuka mata
untuk pertama kalinya di usia delapan belas tahun, yaitu di sepertiga malam tanggal 30 Januari 2013. Saya
bagaikan disodorkan hadiah berupa sebongkah batu berbentuk angka delapan belas
oleh seseorang. Kemudian ia letakkanlah batu tersebut di punggung saya.
“Berat!” teriak saya dalam hati.
“Berat!” teriak saya dalam hati.
Ya, hidup dengan menyandang angka delapan belas sebagai
usia, memang seperti memanggul sebongkah batu yang berat, sebuah pekerjaan yang tidak mudah,
jadi harus dijalani dengan pelan-pelan namun penuh tanggung jawab. Juga harus
dengan perasaan bahagia, karena dengan perasaan bahagia, pekerjaan yang berat
akan terasa ringan dijalani. Dan, satu lagi, harus pula diiringi oleh rasa
syukur, karena ketika kita melakukan pekerjaan yang berat, itu artinya Tuhan
percaya bahwa kita dapat menyelesaikan hal yang besar tersebut. Dimana tidak
semua orang diberi kepercayaan untuk menjalaninya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Kemudian, pikiran saya memutar ulang serangkaian potongan peristiwa
yang menjadi bagian dari perjalanan
hidup saya selama delapan belas tahun. Saya yang tidak mau pergi ke sekolah dan
akhirnya dihukum oleh orang tua, saya yang menangis ketika disuruh belajar, saya
yang belajar naik sepeda untuk pertama kalinya, saya yang sedih ketika harus
ditinggal ibu karena akan melahirkan adik, saya yang selalu senang pergi ke
toko buku bersama ayah, saya yang ikut menari di acara perpisahan kakak kelas
enam, saya yang harus berpisah dengan sahabat saya karena harus pindah rumah, saya
merusakkan banyak barang di rumah, saya yang bertengkar dengan adik-adik saya, saya
yang pergi ke kebun binatang bersama keluarga, saya yang bermusuhan dengan teman,
saya yang dikerjai teman-teman karena dianggap mudah dibohongi, saya yang ikut
study tour ke Yogyakarta bersama teman-teman SMP, saya yang terlalu bahagia
karena berhasil masuk ke SMA impian saya, saya yang mengikuti MOPD yang rasanya
begitu “kejam”, saya yang kelelahan dan sering marah-marah karena harus
mengerjakan setumpuk pr dengan deadline yang berdekat-dekatan, saya yang
menjadi ketua ekstrakurikuler di sekolah, saya yang bermain drama untuk tugas
akhir bahasa Indonesia kelas XI, saya yang berjualan pin bersama teman-teman
untuk mendapat nilai ekonomi, dan akhirnya saya yang kini berusia delapan belas
tahun.
Dari serangkaian peristiwa yang telah saya alami selama ini,
rasanya belum ada hal bermanfaat secara signifikan yang saya lakukan, baik
untuk diri saya apalagi untuk orang lain. Yang saya lakukan selama ini rasanya
hanyalah hal-hal yang membuat orang-orang di sekitar saya kesal, marah, sedih,
dan bahkan kecewa.
Di usia delapan belas tahun ini, tiba-tiba saya tersadar,
bahwa saya harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Mungkin terdengar
terlalu muluk, tapi sejujurnya saya ingin memperbaiki sistem pendidikan di
negeri ini. Kalaupun saya tidak bisa memperbaiki sistem pendidikan yang telah
ada, setidaknya saya ingin menumbuhkan minat belajar dan membaca kepada mereka
yang selama ini sulit mendapat akses pendidikan. Seperti pengamen, anak
jalanan, pemulung, dan orang-orang lainnya yang selama ini dianggap “tidak ada”
di negeri ini.
Di usia delapan belas tahun ini, saya pun juga tersadar
bahwa ulang tahun bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan, tetapi perlu
direnungkan. Karena dari perenungan terlahir begitu banyak hal-hal tersembunyi
yang selama ini saya lewatkan, namun ternyata begitu penting ketika disadari
dan kemudian harus dijadikan pelajaran dalam menapaki tangga kehidupan yang
selanjutnya. Maka dari itulah sedari tadi saya meracaukan renungan saya lewat
tulisan ini. Ibu saya memang membuatkan kue untuk saya, ayah dan adik-adik saya
memang memberi saya hadiah, dan sahabat saya memang menuliskan puisi untuk
saya, tetapi saya melihat semua itu bukan sebagai perayaan atas pencapaian usia
saya, tapi sebagai bentuk kasih sayang mereka kepada saya. Dan saya begitu
bersyukur mereka yang saya sayangi tersebut mau menujukkan kasih sayang dan
dukungan mereka, sehingga saya bisa dengan percaya diri berlari untuk mencapai masa depan yang semoga
bisa memberi manfaat untuk orang lain. Saya mau jadi orang yang berguna!
*Beberapa bagian dari renungan ini terinspirasi dari tulisan Fahd Djibran
No comments:
Post a Comment