Turun dari angkot di sore itu, kulihat langit masih berpresipitasi. Kuhembuskan napas untuk yang kesekian kalinya di sore itu, menguatkan hati untuk kembali menerobos titik-titik air dari langit. Sesungguhnya, tak pernah menjadi masalah buatku untuk berbasah-basahan dimandikan langit yang menangis, namun aku terus-menerus menyesal karena tak pernah ingat utuk membawa payung di tasku.
Kuseberangi jalanan yang ramai dan amburadul karena para penggunanya tak mau disetop sang lampu merah walau hanya dalam hitungan detik. Belum sampai aku di ujung jalan, seorang gadis kecil berdiri di sebelahku, ketika kutengokkan kepala ke arahnya, ia tersenyum manis dan menyapaku dengan ramah. Aku yang selalu kaku terlebih ketika bertemu orang asing ini, seketika tersenyum lebar membalas keramahan si gadis kecil. Kemudian, secara mengejutkan, ia menyodorkan sebagian payungnya padaku. Kami pun menyeberangi jalan bersama-sama sambil berbagi payung. Di ujung jalan, kuucapkan terima kasih dengan sepenuh hati atas kebaikannya. Sekali lagi, ia tersenyum manis padaku.
No comments:
Post a Comment